Apel Dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasiaonal ( HKBN ), Di lanjutkan Simulasi Penanganan Bencana Alam

Spread the love

GERBANG CELEBES – Luwu Timur, Kodim 1403/Palopo, Pada tanggal 26 April 2025 diperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). Ini merupakan sebuah momentum tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di wilayah masing-masing.

Hadir dalam kegiatan apel tersebut Ir Bahri Suli (Sekda Lutim), Mayor Arm Syafaruddin(Pabung Lutim), Letda Laut (T) Josepf Rd (Danpos Lampia), Benny (Kepala Dinas Damkar), Madras (Wakil ketua Bidang SDM), Amran (Sekertaris Dishub) dan Abd Rauf (Eksternal PT. Vale) serta paeserta Upacara dari berbagai unsur.

Mayor Arm Syafaruddin selaku perwira penghubung menyampaikan kepada awak media, Peringatan HKB pertama kali dicetuskan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2017, inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap tingginya risiko bencana di Indonesia yang secara geografis berada di wilayah rawan gempa, letusan gunung api, banjir, dan bencana alam lainnya. Melalui peringatan ini, BNPB ingin membentuk budaya sadar bencana agar masyarakat lebih tanggap, terlatih, dan mampu menyelamatkan diri saat bencana datang.” Uangkapnya.

Dilansir akun resmi BNPB Indonesia, peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2025 mengusung tema “Siap utuk Selamat: Bangun Kesiapsiagaan Sejak Dini.” Tema ini menekankan pentingnya edukasi dan pelatihan kebencanaan yang dimulai sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas.

Imbauan BNPB Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana, BNPB Indonesia mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta dalam aksi serentak sebagai bentuk simulasi kesiapan.

  • Membunyikan tanda kentongan, sirine atau lonceng secara serentak pada pukul 10.00 waktu setempat.
  • Lakukan latihan evakuasi mandiri segera menuju tempat aman agar ksiap dan selamat dari bencana.

Latihan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai rutinitas simbolik, tetapi juga sebagai langkah nyata dalam membudayakan kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Melalui gerakan serentak ini, diharapkan setiap individu dapat memahami prosedur evakuasi yang tepat, mengenali jalur evakuasi, serta mampu bertindak cepat dan tenang saat bencana terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilarang Copast